Langsung ke konten utama

Bersama Dalam Satu Frekuensi (Review Habibie dan Ainun 3)


Disclaimer: tulisan ini mengandung spoiler, jika kamu kurang suka, mungkin bisa disudahi membacanya.
Kemarin, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk menonton film Habibie dan Ainun 3. Jujur, aku tidak memiliki ekspektasi apapun. Murni hanya ingin melihat kelanjutan film-nya, mengetahui lebih lanjut dari sisi Ibu Ainun. Namun setelah menonton, bahkan sejak detik pertama, aku sudah mewek ToT
Adegan dimulai ketika Pak Habibie dan keluarga mengunjungi makam Ibu Ainun pada tahun 2011. Saat melihat sosok Pak Habibie, aku benar-benar mengira bahwa itu adalah beliau. Tapi kok setinggi itu? Baru ketika adegamn di-zoom in, aku menyadari bahwa itu adalah Reza. Iya, semirip itu mereka. Yang membuatku tidak bisa menahan diri adalah, ketika beliau berkata I miss you pada makam Ibu Ainun.
Barulah adegan-adegan selanjutnya, menggunakan alur maju-mundur dan metode pak Habibie menceritakan kembali kisah istyrinya kepada keluarga, kisah Ibu Ainun dimulai. Bagaimana Rudy mengolok gula jawa, bagaimana olokan itu menarik perhatian Ainun. Kejadian selama SMA mereka berjalan normal, belum terlalu mengaduk emosi. Rudy tahu bahwa Ainun akan melanjutkan studi di FK UI, pun Ainun juga tahu bahwa Rudy akan terbang ke Aachen untuk mempelajari pesawat. Tidak ada kontak, tidak ada kabar satu sama lain selama mereka kuliah.
Cerita mulai menuju puncak ketika Ainun kuliah. Bagaimana dia mengerahkan keberanian dan kelembutan hatinya, mendedikasikan diri pada ilmu-ilmu medis. Bagaimana Ainun mampu membuat mahasiswa di kampus membentuk PPA (Perkumpulan Penggemar Ainun). Apakah studi Ainun semulus itu? Tentu tidak. Sekali dia digambarkan merasa gagal setelah berusaha keras. Kisah Ainun selama kuliah kemudian dipermanis dengan kehadiran Ahmad, mahasiswa FH UI. Namun selama mereka merajut kisah, sepertinya aku tidak mendengar Ainun mengatakan cinta. Seperti, dia hanya senang dengan kehadiran Ahmad yang selalu di sisinya, dan sepenuh hati mendukungnya. Awalnya aku merasa aneh, terlebih Ahmad selalu berkata, “Beginilah rakyat kita, karenanya Indonesia tidak juga maju” (aku lupa kalimat persisnya, karena seringkali berbeda, namun poinnya seperti ini). Dan Pak Habibie (di tengah menceritakan kisah itu pada cucunya) juga berkata, “Toh itu hanya masa lalu, faktanya kami bersama. Karena sia-sia jika tidak satu frekuensi”. Hingga di akhir, saat kali kedua Ainun bertanya apa rencana Ahmad di masa depan, laki-laki itu menjawab, “Aku ingin pergi dari sini, pergi ke lingkungan yang lebih sehat dan beradab”. Saat itu, (aku merasa) Ainun menyadari, bahwa visinya dengan Ahmad berbeda. “Kita berada dalam buku yang sama (mungkin dalam hal saling menyukai), namun halaman yang berbeda (karena tujuan mereka berbeda),” kata Ainun. Begitulah hubungan mereka berakhir.
Dari adegan-adegan dan penafsiranku, aku kemudian menyadari, bahwa memiliki visi yang sama pada pasangan, itu hal yang sangat perlu dipertimbangkan. Saling mencintai saja tidak cukup (terlepas dari finansial dan lain sebagainya). Ainun tahu bahwa Rudy bertekad akan memajukan bangsa sejak perpisahan SMA, karena itu dia berjuang di Jerman sana. Pun juga Ainun, dia ingin menjadi dokter yang hebat (dalam artian baik), demi baktinya pada negeri. Sementara Ahmad, karena mengetahui bangsanya sangat kacau, justru ingin melarikan diri. Ahmad mungkin berkata, “Kalau begitu, aku akan tinggal, demi kamu, impian dan masa depanku” pada Ainun. Namun hal itu justru membuatnya terpaksa. Hubungan Ainun dan Ahmad, jika dilanjutkan, hanya akan membuat salah satunya mengalah. Berbeda jika dengan Rudy, karena impian dan tujuan mereka sama-sama untuk Tanah Air.
Ketika kisah itu berakhir, Rudy, dalam dimensi lain, bertemu dengan Ainun. Rudy menyadari (setelah mengingat kembali untuk diceritakan kepada ciucu-cucunya), bahwa perjuangan Ainun menjadi dokter begitu berat. Rudy menangis di hadapan Ainun.
“Setelah perjuangan itu, kamu .... Maafkan aku, Ainun”
“Tidak apa-apa, Rud. Aku ikhlas.”
Aku tidak tahu maksud adegan ini, tapi bisa jadi karena Ainun tidak bisa menjadi dokter seutuhnya, mengingat dia harus nomaden mengikuti Rudy. Atau bisa jadi karena dia justru meninggal karena sakit (yang harusnya diobati dokter). Namun jika itu adalah kemungkinan yang pertama, maka tentu saja Ainun ikhlas. Karena yang penting, baktinya pada negeri terwujud. Meski tidak melalui tangannya, tapi tangan Rudy.
Bagaimana batas antara fiksi dan fakta dalam film ini? Berdasarkan video wawancara Viva di Youtube pada empat cast film ini (Jefri, Rebecca, Kevin, dan satu lagi aku lupa), kejadian ini fakta. Ahmad, Arlis, Soelarto betulan ada. Namun identitas Ahmad dirahasiakan, dan hanya Ibu Arlis yang mengetahui detail kejadian itu. Cerita film ini banyak dari beliau. Bahkan Pak Habibie tidak mengetahuinya (mungkin sampai diceritakan). Secara umum, film ini sangat bagus. Kalian bisa belajar banyak hal dari sana: nasionalisme, berkaca dengan sikap kita pada negeri, keteguhan hati, impian, juga cinta dan persahabatan. Kita juga akan belajar bagaimana metode mendidik dan memahami mereka yang mempelajari ilmu medis. Dan, tentu saja, akting pemain yang tidak bisa diragukan lagi 😊